Web3 Tidak Gagal, Tapi Manusia Belum Membutuhkannya

Beberapa tahun terakhir, banyak orang mengatakan Web3 gagal.

  • NFT Mati
  • Crypto penuh spekulasi
  • Metaverse hilang dari radar
  • dan Aplikasi desentralisasi tidak menggantikan aplikasi yang kita gunakan setiap hari.

Lalu muncul satu kesimpulan sederhana,

“Web3 hanya hype”

Tapi mungkin pertanyaannya bukan, “Apakah Web3 gagal?”

Mungkin Pertanyaan yang lebih tepat adalah “Apakah manusia memang sudah membutuhkan Web3?”

Teknologi bagus tidak selalu menang

Kita percaya bahwa teknologi yang lebih baik akan otomatis digunakan.

Nyatanya tidak.

Sejarah teknologi berkali-kali menunjukkan hal yang berbeda.

Manusia tidak selalu memilih sistem paling ideal.
Manusia memilih sistem yang menyelesaikan masalah mereka dengan cara termudah.

Ide Web3 terdengar sangat kuat,

  • Kita memiliki data kita sendiri.
  • Kita memiliki aset digital sendiri
  • Tidak bergantung pada perusahaan besar
  • Tidak ada pihak tengah yang mengontol

Secara filosofi, ini menarik.

Masalahnya, sebagian besar manusia tidak bangun pagi sambil berpikir:
“Aku ingin memiliki kontrol penuh terhadap data digitalku.”

Kita berpikir:

  • “Bagaimana caranya pesan makanan lebih cepat?”
  • “Bagaimana caranya kirim uang lebih mudah?”
  • “Bagaimana caranya ngobrol dengan teman tanpa ribet?”

Adoption lahir dari masalah, bukan ide

Teknologi besar biasanya menang bukan karena orang memahami fillsofinya. Mereka menang karena menyelesaikan rasa sakit.

Internet menang bukan karena semua orang peduli dengan jaringan global. Mereka ingin mencari informasi.

Smartphone menang bukan karena orang mencintai komputer kecil di kantongnya. Mereka ingin komunikasi, kamera, dan hiburan.

AI berkembang cepat bukan karena semua orang memahami machine learning. Mereka ingin pekerjaan selesai lebih cepat.

Sedangkan Web3 sering datang dengan pesan: “Kamu harus peduli tentang ownership.”

Tetapi bagi banyak orang: Ownership bukan masalah yang mereka rasakan.

UX mengalahkan ideologi

Ini mungkin bagian tersulit bagi Web3

Pengalaman pengguna

Hari ini orang bisa membuat akun aplikasi dalam sepuluh detik.
Masuke dengan email, Lupa password? Reset.

Sederhana bukan?

Lalu di Web3?
Buat wallet -> Simpan seed phrase -> Pahami gas fee -> Pahami gas fee -> Pahami network.
Kalau salah kirim aset? Aset bisa hilang selamanya.

Bagi orang yang percaya desentralisasi, itu adalah kebeasan.
Bagi mayoritas orang, itu adalah beban.

Dan manusia punya pola yang sama:
Kita akan menukar sedikit kontorl untuk mendapatkan kenyamana.

Jadi apakah Web3 mati?

Tidak.

Mungkin Web3 hanya terlalu cepat datang membawa jawaban untuk masalah yang belum dirasakan banyak orang.

Karena teknologi besar sering terlihat tidak penting…

Sampai suatu hari manusia menemukan alasan kenapa mereka membutuhkannya.

Mungkin Web3, tidak akan menang karena orang tiba-tiba mencintai desentralisasi.

Ketika seseorang memakai aplikasi bukan karena itu “Web3”.
Tapi karena itu lebih baik

Teknologi bukan hanya tentang apa yang mungkin dibuat. Tenologi adalah tentang apa yang manusia bersedia gunakan. Web3 membawa pertanyaan besar tentang masa depan internet.

Tapi sebelum bertanya apakah manusia siap untuk memiliki internet, kita harus bertanya:

“Apakah manusia merasa kehilangan sesuatu dari internet hari ini?”

Karena manusia jarang mencari kebebasan ketika mereka masih merasa nyaman.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *