Manusia Tidak Memilih Prinsip, Mereka Memilih Kenyamanan

Tidak ada yang peduli privasi.

Atau barangkali, tidak sebanyak yang mereka katakan.

Kita hidup di zaman yang hampir semua orang tahu data mereka dikumpulkan. Mereka tahu aktivitas mereka dilacak. Mereka tahu algoritma media sosial mempelajari kebiasan mereka lebih baik daripada teman dekat mereka sendiri.

Namun setiap pagi, mereka tetap membuka aplikasi yang sama.

Mereka tetap menggunakan Google.

Mereka tetap menggunakan Instagram.

Mereka tetap menggunakan WhatsApp.

Mereka tetap menggunakan Tiktok.

Jika privasi memang sepenting yang sering dibicarakan, bukankah platform-platform tersebut seharusnya sudah lama ditinggalkan?

Hal yang sama juga terjadi di dunia Web3.

Selama bertahun-tahun, komunitas Web3 berbicara tentang kebebasan, kepemilikan aset, dan lebih lagi desentralisasi. Secara teori, gagasan-gagasan tersebut terdengar masuk akal. Bahkan sulit untuk menolaknya.

Tetapi ada satu masalah.

Kebanyakan orang tidak bangun pagi dan berpikir tentang desentralisasi.

Mereka bangun pagi dan mencari cara termudah untuk menjalani hari.

Semakin lama saya mengamati dunia teknologi, semakin saya curiga bahwa banyak orang salah memahami perilaku manusia.

Kebanyak orang mengira, manusia memilih berdasarkan prinsip.

Padahal seringkali manusia memilih berdasarkan kenyamanan.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa teknologi hebat gagal mendapatkan pengguna.

Kita Sudah Tahu!

Lihat bagaimana kita menggunakan internet hari ini.

Sebagian besar orang tahu, Google mengumpulkan data mereka.

Sebagian besar orang tahu, Facebook pernah terlibat dalam skandal privasi.

Sebagian besar orang tahu, TikTok mengumpulkan informasi dalam jumlah besar.

Tetapi, hampir tidak ada yang berhenti menggunakannya.

Bukan karena mereka tidak tahu.

Bukan karena mereka bodoh.

Melainkan karena alternatifnya sering kali lebih merepotkan.

Dan manusia memiliki Toleransi yang sangat rendah terhadap kerepotan.

Mencoba Sadar

Saya mulai menyadari pola yang sama ketika masuk ke dunia Web3.

Komunitas Web3 sering berbicara tentang desentralisasi, self-custody, dan kepemilikan aset digital.

Semuanya terdengar masuk akal.

Masalahnya, menggunakan teknologi tersebut sering kali jauh lebih sulit dibandingkan alternatif yang sudah ada.

Menyimpan private key, jauh lebih merepotkan ketimbang menekan tombol “Lupa Password”.

Mengelola wallet lebih merepokan ketimbang login dengan akun Google.

Menjalankan node sendiri lebih merepokan ketimbang menggunakan layanan terspusat.

Dan dalam pertarungan antara prinsip dan kenyamanan, kenyamanan hampir selalu menang.

Manusia Tidak Punya Prinsip?

Setelah saya pikir-pikir, mungkin masalahnya bukan karena manusia tidak punya prinsip.

Masalahnya adalah prinsip selalu memiliki biaya.

Semua orang mendukung desentralisasi sampai mereka harus menyimpan private key mereka sendiri.

Semua orang mendukung kebebasan sampai mereka harus bertanggung jawab atas kebebasan tersebut.

Di sinilah banyak teknologi idealis mulai bertabrakan dengan kenyataan.

Mereka menganggap manusia akan memilih apa yang benar.

Padahal dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering memilih apa yang mudah.

Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan setiap keputusan memiliki harga.

Dan bagi kebanyakan orang, harga yang harus dibayar untuk mempertahankan prinsip terasa terlalu mahal.

Mungkin selama ini komunitas Web3 menanyakan pertanyaan yang salah.

Mereka bertanya: “Bagaimana membuat orang peduli akan desentralisasi?”

Padahal orang-orang sudah cukup peduli. Masalahnya bukan pada Kepedulian.

Masalahnya adalah biaya,

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Bagaimana membuat desentralisasi terasa semudah sentralisasi?”

Karena sejarah teknologi menunjukan satu hal yang berulang.

Teknologi terbaik tidak selalu menang, Teknologi yang paling Mudah seringkali yang menang.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *