Sulit untuk menentang produktivitas.
Jika seseorang berkata bahwa ia ingin menjadi lebih produktif, hampir tidak ada yang membantah. Produktivitas terdengar seperti sesuatu yang selalu baik. Sama seperti kesehatan, pendidikan, atau kejujuran.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan.
Produktif untuk apa?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi justru sering diabaikan.
Banyak orang hari ini menghabiskan waktu untuk mengoptimalkan hidup mereka. Mereka mengatur jadwal, membuat daftar tugas, memasang aplikasi pengingat, mempelajari teknik manajemen waktu, dan mengejar berbagai target yang telah ditetapkan.
Namun, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk mengelola kehidupan, semakin sedikit waktu yang digunakan untuk mempertanyakan arah kehidupan itu sendiri.
Kita menjadi sangat efisien.
Tetapi efisien menuju ke mana?
Di masa lalu, agama memberi manusia tujuan akhir. Terlepas dari benar atau salahnya, agama menawarkan jawaban atas pertanyaan besar –> mengapa manusia hidup? Apa yang bernilai? dan kemana hidup seharusnya diarahkan?
Produktivitas modern menawarkan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak menjawab ke mana harus pergi.
Ia hanya membantu kita bergerak lebih cepat.
Masalahnya, bergerak lebih cepat tidak selalu berarti bergerak ke arah yang benar.
Seseorang dapat mengahabiskan bertahun-tahun membangun karier yang sebenarnya tidak ia sukai. Seseorang dapat mengejar promosi demi promosi tanpa pernah benar-benar bertanya apakah posisi tersebut memang ia inginkan. Seseorang dapat mengisi setiap jam dalam hidupnya dengan aktivitas yang berguna, tetapi tetap merasa kosong ketika sendirian.
Produktivitas tidak kebal terhadap paradoks.
Justru karena ia sangat efektif, produktivitas mampu membawa seseorang lebih jauh ke tujuan yang salah.
Teknologi memperkuat fenomena ini.
Hari ini, hampir semua hal dapat diukur.
- jumlah langkah kaki
- jam tidur
- buku yang dibaca
- kalori yang dibakar
- tugas yang harus diselesaikan
Bahkan, perhatian dan fokus manusia perlahan berubah menjadi angka.
Apa yang bisa diukur akhirnya dianggap penting.
Dan apa yang tidak bisa diukur perlahan terlupakan.
Tidak ada aplikasi yang dapat mengukur apakah seseorang memiliki kehidupan yang bermakna.
Tidak ada dashboard yang dapat menunjukan apakah seseorang telah menjadi teman yang baik.
Tidak ada grafik yang bisa memberi tahu apakah seseorang sedang menjalani hidup yang benar-benar ia pilih sendiri.
Hal-hal tersebut terlalu rumit untuk dijadikan metrik.
Karena itu, kita cenderung menggantinya dengan sesuatu yang lebih mudah dihitung.
- kesibukan
- target
- pencapaian
- output
Produktivitas modern tidak meminta manusia untuk percaya kepada Tuhan.
Ia hanya meminta manusia untuk percaya bahwa selalu ada sesuatu yang harus dilakukan.
Dan mungkin di situlah letak kemiripannya dengan agama.
Bukan karena produktivitas memiliki kitab suci atau tempat ibadah.
Melainkan karena banyak orang menerimanya tanpa lagi mempertanyakan asumsi dasarnya,
- bahwa lebih banyak selalu lebih baik
- bahwa lebih cepat selalu lebih unggul
- bahwa waktu yang tidak menghasilkan apa-apa adalah waktu yang terbuang
Padahal tidak semua hal berharga dalam hidup lahir dari efisiensi.
- persahabatan tidak efisien
- cinta tidak efisien
- kontemplasi tidak efisien
- bahkan kebahagiaan sering kali tidak efisien
Mungkin itu sebabnya manusia modern semakin ahli mengelola waktu, tetapi tidak selalu semakin mengerti bagaimana menggunakannya.
Kita hidup di zaman yang sangat terobsesi dengan cara melakukan sesuatu.
Namun semakin jarang membahas alasan mengapa sesuatu itu dilakukan.
Dan mungkin masalah terbesar produktivitas bukanlah bahwa ia membuat manusia bekerja terlalu keras.
Melainkan bahwa ia membuat manusia lupa untuk bertanya ke mana semua kerja keras itu sebenarnya diarahkan.
